Archive for March, 2006

Romansa Homoseksual Kelas Pekerja

Tuesday, March 7th, 2006

Drama selalu lebih mudah!

Perasaan dan hasrat selalu merupakan cadangan, pengganti spiritualitas.

Elfriede Jelinek, The Piano Teacher

Eric Sasono

Cerita romansa selalu bersumber dari cinta yang terhalangi. Pada film terakhir Ang Lee, Brokeback Mountain, halangan itu bersumber dari takdir sepasang kekasih ini sebagai kelas pekerja. Kedua lelaki itu bertemu di sebuah gunung yang sunyi ketika menjadi penggembala kambing. Di sana mereka berdua. Menghabiskan waktu; dan rasa itu datang begitu mudahnya. Tak perlu banyak derita, tak perlu banyak pergulatan. Hasrat adalah sesuatu yang tersembunyi di bawah kulit paling luar. Tak perlu banyak usaha agar menemukan jalan. Perkara jalannya homoseksualitas, film ini bagai menjawab ringan: mengapa tidak? Tak ada konflik berarti digambarkan ketika kedua tokoh ini berangkat ke homoseksualitas mereka.

Maka perasaan itu menemukan jalannya dengan sabar. Karena mereka harus menahan. “Kalau kita tak bisa memenuhinya, maka tahanlah” kata Ennis Del Mar (Heath Ledger). “Sampai kapan?” kata sang kekasih, Jack Witt (Jack Gylenhaal). Ennis menjawab bahwa ia tak tahu.

Siapa yang bisa tahu perasaan yang harus tertahan takdir semacam ini? Jack nyaris tidak tahan. Karena ia adalah diri yang lebih bebas. Sejak tahun pertama pertemuan mereka ia sudah bercita-cita mengajak Ennis untuk pulang ke kampungnya. Membuka peternakan dan hidup berbahagia bersama di sana. Ennis menolak. Karena ia tak mengerti perasaan di dalam hatinya itu. Ia menangis ketika mereka berpisah pertamakali. Tangisan itu bukan tangis rindu. Lebih mirip penyesalan, kebingungan dan kepasrahan terhadap takdir. Jangan bayangkan takdir sebagai pemaksa. Takdir tidak harus berbenturan dengan keras dengan individu. Ia menyelinap; menyayat perasaan dan hasrat yang paling dalam.

Tokoh-tokoh film ini adalah kelas pekerja di pedesaan Amerika tahun 1960-an sampai 1980-an. Mereka berada dalam sebuah dunia yang sepi. Di tempat yang tak tersentuh revolusi seksual. Amerika tahun 1960-an boleh jadi adalah pusat bangkitnya generasi bunga dan kemudian generasi beat yang punya kredo make love not war. Tapi kredo itu berhenti di San Fransisco atau Washington. Riverton, Wyoming atau Childress, Texas, dan tentu saja gunung Brokeback lokasi-lokasi cerita film ini, tak tersentuh oleh gelombang besar sejarah itu. Mereka bagai manusia-manusia yang berjalan tak mampu melampaui waktu. Mereka hidup di lokasi-lokasi terpencil, dimana gebyar peradaban kalah oleh sederhananya alam. Di mana lampu kemajuan kalah pesona oleh festival rodeo kampungan. Penokohan dan karakterisasi macam ini yang memang kekuatan utama perempuan penulis Annie Proulx yang cerpennya didapatasi menjadi film ini.

Dalam konteks kota kecil dimana peradaban tumbuh seperti langkah siput, lelaki adalah pencari nafkah dan perempuan adalah penjaga rumah dan anak-anak. Pembagian kerja terjadi begitu sempurna. Ennis sangat “mematuhi” pembagian kerja itu. Lengkap dengan segala atribut kulturalnya.

Atribut kultural itu adalah tak terolaknya heteroseksualitas. Ang Lee tak repot menggambarkan penolakan itu. Semua terterima sebagai kenyataan tak tertanyakan. Tak ada penggambaran gay bashing seperti pada Wedding Banquet. Bahkan pemukulan terhadap Jack Witt hanya jadi latar yang amat kabur, membuat kita tak yakin adatah hubungannya dengan homophobia yang menimpanya.

Namun lewat kehalusan ini justru kita bisa menangkap betapa tersiksanya Ennis oleh rasa rindu yang tak tersalurkan. Konflik akhirnya memang lebih banyak terjadi di dalam diri para tokoh ketimbang dari hubungan-hubungan mereka. Bahkan ketika istri Ennis, Alma (Michelle Williams) menemukan kenyataan bahwa Ennis berciuman dengan Jack ketika Jack mengunjungi mereka pertamakali, Ang Lee tidak menjadikan hal ini sebagai konflik yang terbuka. Kita diajak menyelami perasaan Alma yang tertekan dan menahan tekanan itu bertahun-tahun lamanya. Di sini akhirnya Ennis melakukan kekerasan dengan caranya sendiri terhadap Alma. Padahal ia hanya pribadi yang merindu, tak berani keluar dari takdir yang sebenarnya tak mengekangnya.

Maka romansa homoseksual ini menjadi sempurna. Ang Lee tidak sedang berusaha membuat melodrama dimana peristiwa menjadi lebih besar daripada kehidupan itu sendiri. Bahkan drama pun dihadirkan dengan lembut dengan tempo lambat. Ang Lee seakan ingin menghargai betul sensitivitas perasaan tokoh-tokoh dalam film ini. Ia membiarkan para tokohnya menikmati alam yang luas dan indah, peristiwa yang berjalan dengan tenang dan tak tergesa, dan yang terpenting: perasaan-perasaan dan hasrat mereka. Betapa luhurnya Ang Lee memperhatikan perasaan dan hasrat itu. Keluhuran itu membuat perasaan dan hasrat tak sekadar jadi cadangan. Ia dimenangkan, dirayakan. Dengan kesabaran, kepasrahan dan hasrat yang tetap bergelora.

Penjahat Kian Dekat

Wednesday, March 1st, 2006

Rakyat

Siapa pihak paling dibela dalam sejarah manusia? Siapa mereka yang jadi subyek dan obyek utama pengetahuan dan budaya? Siapa yang mampu membuat seseorang berkubang darah mempertahankannya? Siapa dia yang jadi majikan kita sepanjang masa? Tuhan? Bukan. Tapi, rakyat.

Entah bagaimana makhluk dan entitas ini sebenarnya, Anda tinggal memilih sudut atau kacamatanya. Secara sosiologis, historis, politis, ideologis, bahkan secara individualistis Anda bisa dan bebas merumuskannya. Tapi yang jelas, ia adalah makhluk yang (sangat) ditinggikan. Tempat di mana kebenaran berdomisili atau diproduksi. Tempat di mana ”Tuhan diwakilkan”. Itu kata demokrasi.

Tapi benarkah demikian? Benarkah ia adalah rumah kesucian, keluguan, kedaulatan, hulu dari semua keputusan? Benarkah rakyat tidak berdosa, jujur, dan pantas di-”tuan”-kan? Betapa memilukan jika pada akhirnya kita terpaksa menjawab ”ya”.

Karena, betapa pun demokrasi, misalnya, berinti kata pada rakyat, rakyat sebenarnya tak pernah dibela. Apalagi berkuasa. Rakyat hanya sebuah konstruksi abstrak yang dibuat elite. Yang didayaguna untuk satu interes, yang diperdaya untuk satu tujuan bisnis misal saja. Rakyat pada akhirnya deretan digit abstrak yang tak berdaya. Ia melulu korban.

Lain hal, sejarah dan peristiwa mengajarkan, wajah naif dan ’inosens’ rakyat ternyata sulapan fotografis belaka. Mereka yang menyebut diri rakyat adalah mereka yang kedegilan, kejahatan paling menggiriskan. Mereka yang juga menipu, yang membunuh tanpa pengadilan, yang munafik, yang korup, yang…

Komprehensi itu bisa terbit dari tulisan menggelitik Eric Sasono, pengamat dunia audio visual, sebagai warga baru ’Teroka’ kali ini. Kejahatan dalam bentuknya terkini ternyata membuyarkan gambaran ideal apa pun tentang siapa rakyat. Tinggal kita: rakyatkah kita? Renunglah, renung, dengan membacanya.

Radhar Panca Dahana

Penjahat Kian Dekat

Dunia audio visual negeri ini memang berubah sejak kedatangan televisi swasta. Salah satu perubahan terbesar adalah kemunculan para penjahat, lewat serial televisi yang kerap kita sebut sinetron.

Mari bandingkan dengan film. Karl G Heider (1991) pernah meneliti film Indonesia sebagai cerminan budaya nasional. Heider menemukan sesuatu yang istimewa. Ternyata kebanyakan film Indonesia lebih suka mengedepankan ide pertentangan antara ketertiban (order) melawan kekacauan (disorder) ketimbang pertentangan antara baik (good) melawan jahat (evil).

Heider melihat ini sebagai persoalan kultural. Pada tingkatan bahasa verbal saja, orang Indonesia sudah memperlihatkan kecenderungan penekanan pada hubungan-hubungan sosial ketimbang kualitas individual.

Inilah gambaran Heider tentang budaya negeri ini yang lebih suka melihat perilaku dalam kaitannya dengan hubungan-hubungan sosial dan tidak punya nilai intrinsik. Maka, kejahatan punya tempat dalam fungsi pelaku sebagai pengacau, bukan perbuatan yang secara intrinsik dimiliki oleh si pelaku.

Krishna Sen (1994) sepakat dengan Heider. Hanya saja ia melihat persoalan ini sebagai bagian dari politik kebudayaan Orde Baru pada bidang film. Ia mengambil contoh usaha untuk memfilmkan kisah perkosaan Sum Kuning yang menghebohkan di tahun 1980-an dalam film Perawan Desa.

Sen memperlihatkan bahwa politik untuk mengedepankan harmoni membuat realitas direpresentasikan dalam kerangka mendahulukan harmoni. Penggambaran realitas saja sudah bermasalah, apalagi ketika realitas itu mengganggu harmoni.

Dalam gambaran Sen, terjadi penyensoran besar-besaran terhadap cerita yang diajukan kepada Departemen Penerangan. Jika tadinya skenario berisi mengenai gagal totalnya perjuangan Sumirah dalam menuntut keadilan, berubah menjadi tobatnya si pelaku, dan Sumirah jadi penyelamat pemerkosanya.

Penelitian kedua orang ini adalah pada dunia film, di mana ada perbedaan karakter media yang juga berarti perbedaan perlakuan secara kultural dan politik ketimbang televisi. Baik pada tingkat pekerja maupun pengambil kebijakan, film dan televisi dilihat punya peran masing-masing.

Selain itu, penelitian mereka terjadi pada masa Orde Baru dan tentu berbeda dengan keadaan sekarang. Kini Departemen Penerangan sudah tak ada, berganti dengan Departemen Komunikasi dan Informatika dengan niatan yang berbeda. Sementara film diatur oleh Departemen Pariwisata, Seni dan Kebudayaan. Kedua departemen ini tak lagi dimaksudkan sebagai pengendali muatan di media. Justru itulah kita bisa menyaksikan bagaimana sekarang pandangan tentang baik-jahat dan tertib-kacau sudah berubah sama sekali dari penelitian yang dikutip di awal tulisan ini.

Psikopat yang jahat

Kini televisi dipenuhi oleh orang-orang jahat. Kejahatan tidak lagi dilihat dalam kerangka penciptaan kekacauan, tetapi sudah dipandang sebagai memiliki nilai intrinsik. Manusia-manusia Indonesia yang digambarkan dalam sinetron mampu melakukan kejahatan dengan motivasi yang umumnya berasal dari kualitas buruk manusia itu sendiri: iri hati, dengki, ketidakmampuan menerima kenyataan, dan sebagainya. Kejahatan yang mereka lakukan juga tergolong kriminalitas berat. Dengan niat jahat mereka menabur racun, menyiapkan pisau, menyiksa, dan melakukan kejahatan terencana lainnya.

Dari segi korban, biasanya korban kejahatan dalam sinetron-sinetron ini punya hubungan sosial yang cukup dekat atau bahkan hubungan keluarga dengan pelakunya. Kejahatan macam tadi yang dilakukan oleh orang dekat hanya mungkin dilakukan jika para pelaku itu adalah psikopat atau mengalami gangguan kejiwaan serius.

Sinetron-sinetron berlabel religius belakangan ini menambah kontras pada hitam-putihnya dunia audio visual kita. Hubungan-hubungan sosial pelaku kejahatan dengan korban pada sinetron religius bahkan bisa hubungan keluarga inti langsung, seperti ayah-anak atau anak-ibu dan sebagainya. Kejahatan yang dilakukan sudah bertumpuk. Selain iri hati atau dengki, kini ditambah dengan ketamakan dan sikap abai terhadap kehormatan diri sendiri.

Mereka adalah pemuja kenikmatan dunia yang tak punya kualitas ilahiah sedikit pun dalam hidup mereka. Para penjahat sinetron religius digambarkan sedemikian kelamnya hingga tak ada secuil pun sinar bagi mereka untuk bertobat.

Struktur narasi juga menempatkan mereka menghinakan orang-orang yang taat beribadah sehingga mereka juga melakukan penghinaan terhadap agama. Lebih buruk lagi, penggambaran hukuman terhadap mereka juga ekstrem, berupa siksaan abadi yang datang dari Tuhan dan tak ada sama sekali kemungkinan mereka bertobat.

Omong kosong

Apakah manusia Indonesia sudah berubah jahat seperti ini? Apa penyebabnya? Mengapa pula balasan yang bersifat ilahiah ini harus ditimpakan tak cukup di akhirat, tapi juga di dunia dan harus pula disaksikan oleh para korbannya (juga penonton televisi)? Sampai di sini, kita memerlukan studi lebih dalam untuk mendapat jawaban yang meyakinkan atas rangkaian pertanyaan di atas.

Namun, ada beberapa hal yang bisa dilihat dari fenomena ini. Pertama, harmoni hubungan sosial yang ada dan digambarkan selama ini ternyata omong kosong dan manusia Indonesia ternyata melihat tetangga-saudara-teman sepermainan dalam iri hati yang dalam. Satu sama lain siap saling menjatuhkan dengan segala cara yang tak terpikirkan oleh manusia berakal dan berjiwa sehat. Persoalannya hanya menunggu waktu dan tempat yang tepat saja.

Di sisi lain, perbedaan kepentingan dan konflik tak pernah dikelola dengan baik, sehingga bangsa ini tak terbiasa memecahkan persoalan dengan baik-baik. Akibatnya, konflik dan perbedaan kepentingan hanya dilihat dalam kerangka saling menihilkan.

Kedua, lemahnya penegakan hukum dan hilangnya rasa keadilan mungkin sedikit banyak tercermin dari kecenderungan untuk menghukum pelaku kejahatan dengan balasan seberat-beratnya, tanpa ampun dan diperlakukan sebagai tontonan. Hal ini semacam social redemption, di mana hukuman berlaku sebagai mekanisme pembalasan dendam semata dan bukan sarana rehabilitasi.

Ketiga, kecenderungan untuk kembali kepada religiusitas simplistis tampak seperti ketidakpercayaan terhadap pemecahan masalah lewat institusi-institusi sosial. Agama dalam penggambaran sinetron religius tidak berfungsi sebagai pembangun kohesi, solidaritas sosial ataupun fungsi-fungsi sosial lainnya, melainkan mewakili gambaran penyederhanaan wacana tentang kebaikan. Jelas hal ini merupakan pendangkalan makna agama dan hilangnya fungsi agama sebagai pembebas kemanusiaan.

Misrepresentasi

Mudah-mudahan persoalannya tak semuram itu. Bagaimanapun, media audio visual adalah sebuah representasi dan representasi ini terkadang tidak sepenuhnya dikerjakan dengan baik. Sebagai representasi, sinetron mengadopsi pengetahuan yang dimiliki (stock knowledge), pemahaman dan cara pandang yang dimiliki pekerjanya dalam bentuk-bentuk yang sudah jadi.

Mekanisme produksi yang serba cepat dan tergesa membuat pekerja sinetron tak punya waktu melakukan riset, atau setidaknya meninjau ulang isi pengetahuan yang mereka miliki. Dengan demikian, jika ingin memandang persoalan ini secara positif, kita melihat bahwa sinetron-sinetron penuh penjahat ini adalah misrepresentasi serius kehidupan kita sehari-hari. Misrepresentasi ini jangan-jangan hanya mencerminkan pandangan para pembuatnya saja.

Namun, di sisi lain, jangan sampai misrepresentasi ini menjadi semacam self-fulfilling prophecy, yaitu ketika misrepresentasi itu dipercaya sebagai kenyataan yang memang demikian adanya. Jalan menuju ke sana sangat jelas dengan teriakan para pekerja sinetron dan televisi bahwa produk semacam itulah yang dikehendaki pasar. Apakah para pekerja sinetron sedang berkata bahwa masyarakat kita memang berpandangan seperti yang digambarkan di atas? Padahal, jangan-jangan itu karena ’ulah’ para pekerja televisi dan kebijakan mereka yang tak pernah memberi alternatif sehingga masyarakat menjadi terbiasa dengan bentuk narasi demikian. Bukankah jika pandangan murah ini terbukti, bangsa ini sedang mengalami persoalan yang sangat serius?

Eric Sasono
Pengamat dan Aktivis LSMPengembangan Media

Tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas, 24 Februari 2006