Eric Sasono
Upi Avianto dalam filmnya terakhir, Realita, Cinta dan Rock ‘n’ Roll, mencoba untuk menghadirkan sebuah potret anak-anak muda yang rock ‘n’ roll, bukan dalam pengertian musik melainkan dalam pengertian sikap hidup. Rock ‘n’ roll di sini memang bukan bermakna musik, melainkan attitude, sebuah sikap hidup. Rock ‘n’ roll berawal dari sebuah aliran musik yang dipercaya lahir di Amerika tahun 1950-an. Berawal dari hit album rekaman musisi Bill Haley and His Comet lewat lagu mereka Rock Around the Clock. Sejak itu rock ‘n’ roll berkembang menjadi salah satu aliran musik paling dominan di Amerika (dan kemudian Inggris) sejak saat itu. Di awal kelahirannya, musik rock ‘n’ roll kerap identik dengan sebuah cara berdansa tersendiri yang dianggap sebagai sebuah pembangkangan terhadap kemapanan pola-pola dansa tradisional. Dansa rock ‘n’ roll dianggap liar dan tak terkendali.
Rock ‘n’ roll sendiri punya konotasi seksual yang tinggi. Dalam bahasa slank kaum kulit hitam, rock atau rock ‘n’ roll kerap digunakan untuk menggantikan hubungan seksual yang biasanya dilakukan dalam konteks extra marital, dalam percakapan-percakapan antar peer group atau kesempatan yang sangat kasual atau santai. Rock ‘n’ roll kemudian berkembang melewati pengertian-pengertian asalnya sebagai aliran musik. Rock ‘n’ roll berkembang menjadi attitude, menjadi sikap hidup yang identik dengan pemberontakan dan anti kemapanan. Musik masih menjadi dasar utama sikap tersebut, tetapi meluas dengan atribut lain: obat bius dan sex. Sebagai sebuah attitude, dalam rock ‘n’ roll terkandung sikap anti kemapanan, cenderung anti sosial, dan kebiasaan melakukan kriminalitas kecil yang tergolong tanpa korban (victimless crime).
Namun melekatkan atribusi sikap hidup rock ‘n’ roll pada musik, sex dan obat bius terlalu terpaku pada sebuah konteks sosial tertentu, yaitu tahun 1970-an atau pada generasi pasca generasi bunga di Amerika. Istilah ini berevolusi lagi, bahkan rock ‘n’ roll memperluas pengertiannya menjadi attitude atau sikap hidup itu sendiri yang tak menunjuk pada referensi tertentu. Attitude adalah rock ‘n’ roll. Bagi yang merasa dirinya rock ‘n’ roll, orang yang bersikap hidup adalah yang rock ‘n’ roll, sedangkan yang lain: tak punya prinsip dan sikap dalam hidup, ikut arus, mapan, dan tentu saja: payah.
Ketiga tokoh utama film ini Ipang (Vino G. Bastian), Nugi (Herjunot Ali) dan Sandra (Nadine Chandrawinata) adalah anak-anak dengan attitude rock ‘n’ roll itu. Mereka bagai pemberontak yang abai terhadap lingkungan sekitar mereka dan menjalani sebuah hidup yang agak-agak mempersetankan dunia. Bahasa yang kasar (anjing, ngepet dan kata-kata sejenis ini) mereka gunakan dalam percakapan paling biasa sekalipun. Demikian pula asap rokok yang sudah mengepul sekalipun mereka baru saja bangun tidur.
Sehari-hari mereka bersekolah di sebuah SMA, mem-bully anak albino di kelas mereka dan nge-band. Tampaknya nge-band jadi kewajiban bagi attitude semacam ini sekalipun tampaknya kedua anak laki-laki dalam film ini lebih mengejar atribut sebagai anak band, ketimbang nge-band itu sendiri. Perhatikan sebuah percakapan Ipang dengan ayahnya. Ipang ngotot bahwa ia memang “ingin menjadi anak band” dan tak terlalu pusing dengan sekolah. Menjadi anak band itu sangat penting bagi eksistensinya. Di sini attitude rock ‘n’ roll itu yang diusung film ini jadi terasa artifisial. Para tokoh (dan film ini) mendahulukan atribut ketimbang substansi. Sekalipun film ini memang bukan tentang anak band atau tentang pemusik, tetap saja pensikapan terhadap atribut semacam ini membuat mereka menjadi sangat cair. Mengapa kemudian mereka harus membela nge-band dan bertengkar sana sini padahal nama band pun sudah berganti 30 kali?
Jika musik lebih digandrungi sebagai atribut ketimbang substansi, tampaknya drugs juga dicoret dari daftar attitude itu. Sebagai gantinya mereka digambarkan sebagai perokok berat. Malam hari mereka masih merokok. Pagi hari sebelum melakukan kegiatan apapun, mereka sudah menyalakan rokok. Ini adalah penggambaran kegiatan merokok paling ekstensif dalam film Indonesia. Seingat saya, tak banyak film Indonesia lainnya yang menggambarkan kegiatan merokok seperti film ini.
Pada film Indonesia sebelumnya, kegiatan merokok yang mencolok ada pada dua film. Pertama adalah para Roro Mendut (1983). Dalam film ini rokok ditempatkan secara erotis. Roro Mendut menjual rokok yang sudah diisapnya dan semakin lama rokok itu diisap, maka harganya semakin mahal. Penjualan rokok ini untuk mendapat uang guna menebus dirinya dari kekangan Minak Jinggo. Rokok dan merokok (sebuah simbol phallosentrisme) merupakan sebuah usaha pembebasan. Cerita film Roro Mendut ini memang berasal dari novel karya Romo Mangunwijaya yang ingin bermain-main dengan simbol kepasrahan, seksualitas dan kekuasaan serta phallosentrisme.
Penggambaran kedua adalah pada film Petualangan G30S/PKI (Arifin C. Noer, 1984). Tokoh DN Aidit (Syu’bah Asa) pada film itu digambarkan merokok dengan gambaran extreme close up ke bibirnya. Di sini, merokok lebih menggambarkan kecemasan. Indonesia sedang berada pada situasi politik paling genting sepanjang sejarah kelahirannya (ibu pertiwi hamil tua) dan Aidit dianggap salah satu yang paling berkepentingan terhadap krisis tersebut. Tindakannya merokok terlihat bagai sebuah usaha pengalihan dari kecemasan yang melanda dirinya karena ia harus tetap tenang dalam memimpin rapat-rapat Partai Komunis Indonesia yang semakin intensif dari hari ke hari.
Pada Realita, rokok menempati posisi sebagai gaya hidup. Ia menjadi substitusi bagi drugs, dan mewakili sebuah sikap yang cool. Ini bisa disaksikan dari sikap tubuh Vino dan Herjunot yang tampak santai dan sedikit laid back ketika mengambil rokok atau melakukan kegiatan merokok. Sikap laid back ini adalah sebuah dasar bagi filosofi Afrika yang mendasari kelahiran attitude cool yang berkembang di kalangan musisi jazz Amerika tahun 1950-an yang kemudian menyebar menjadi attitude umum yang dijadikan preferensi kalangan muda di sana dan tak terbatas hanya pada kaum kulit hitam saja. Realita tampak mempromosikan attitude cool ini (bahkan attitude itu sendiri) harus diiringi dengan rokok. Penggambaran semacam ini terasa agak tertinggal dengan kampanye anti rokok di kalangan kaum muda belakangan ini.
Seksualitas
Sex seharusnya menjadi salah satu tema penting dalam sebuah attitude rock ‘n’ roll. Janji film ini terlihat demikian dengan ketelanjangan dada kedua pemain laki-laki dan pakaian seksi Nadine yang terlihat sepanjang film. Apalagi poster promosi film ini dan banyak shot di dalamnya yang mengingatkan pada film Y Tu Mama Tambien yang memang mengupas habis persoalan seksualitas anak muda Mexiko tahun 2000-an.
Y Tu Mama Tambien mengangkat persoalan seksualitas sepasang remaja laki-laki muda yang ditantang sampai batas terjauh oleh seorang perempuan berusia 28 tahun. Sang perempuan bagaikan sebuah perwujudan fantasi liar kedua anak laki-laki belasan tahun itu. Kedua anak laki-laki itu menikmati hidup mereka sebagai sahabat yang setiap hari membicarakan perempuan dan fantasi-fantasi mereka dengan perempuan. Semuanya hanya fantasi karena mereka melakukannya sambil bermasturbasi di tepi kolam renang dan sperma mereka berhamburan ke dalam kolam renang itu.
Kehidupan kedua anak ini terganggu ketika datang seorang perempuan berusia 28 tahunan yang secara seksual membuat kedua anak ini tergila-gila. Perempuan itu sedang bermasalah dengan pacarnya dan merasa perlu melakukan perjalanan jauh untuk melupakan masalah itu. Kedua anak lelaki ini berilusi bahwa fantasi mereka akan terwujud jika berjalan bersama perempuan matang tersebut. Akhirnya mereka bertiga melakukan perjalanan menuju “Pantai Emas”, sebuah pantai imajiner karangan kedua anak itu. Perjalanan ini mengubah hidup kedua sahabat itu dan membuat mereka mempertanyakan secara serius hubungan persahabatan yang mereka miliki selama ini. Keduanya sadar betapa persahabatan yang mereka banggakan ternyata begitu rapuh dan tak bermakna di tengah perjalanan mereka mencari Pantai Emas yang ternyata juga merupakan perjalanan seksualitas mereka. Film ini menantang komunalisme dan mendahulukan individualisme di tengah tantangan seksualitas bagi laki-laki muda Mexiko. Begitulah arti penting Y Tu Mama Tambien.
Sandra dalam Realita, Cinta dan Rock ‘n’ roll tidak merepresentasikan soal yang sama dengan Y Tu Mama Tambien. Terlihat usaha Upi untuk menjadikan sensualitas Sandra menjadi bagian dari pertumbuhan seksualitas kedua sahabat itu. Banyak adegan dimana tubuh Sandra dan kedua anak laki-laki itu bersentuhan sekaligus. Sandra tidur di pangkuan Nugi sementara kakinya melonjor ke pangkuan Ipang. Hal seperti ini agak istimewa dalam konteks negeri ini, paling tidak dalam film Indonesia. Lihat pula adegan Sandra mengundang kedua anak laki-laki itu untuk menari bersama dengan gerakan yang sensual. Sangat mirip dengan Y Tu Mama Tambien. Namun Upi berhenti sampai kemiripan itu saja. Paling jauh ia berani menghadirkan adegan ciuman antara Sandra dengan Ipang. Tak ada seksualitas yang meluap-luap atau hubungan sex bergantian sebagaimana Y Tu Mama Tambien.
Dengan pemajangan (depiction) tubuh yang penuh sensualitas dan segala konotasi-konotasi seksual yang muncul dari cara berpakaian dan gesture para tokohnya, sepintas film itu seakan ingin bicara tentang problem seksualitas. Namun tak ada pembicaraan seputar hal itu. Bisa jadi ada ketakutan soal sensor. Tapi banyak cara menghindar sensor dengan tetap membicarakan soal seksualitas. Kemungkinan lain adalah kekuatiran bahwa film ini menjadi terlalu mirip dengan Y Tu Mama Tambien. Tapi banyak kemungkinan perkembangan plot yang bisa membuat film ini jauh berbeda. Tampaknya Upi memang hanya ingin bicara soal cinta seperti halnya judul film ini. Namun bicara cinta pada tahun 2000-an tanpa melibatkan sex, apalagi dengan diskursus yang penuh seksualitas dalam penggambaran seperti ini, tampaknya film ini seperti takut mendiskusikan topik yang dimulainya sendiri.
Gaze
Upi mungkin ingin memberi porsi persoalan hanya sebatas ciuman atau kisah cinta sebagaimana judul film ini. Namun ada seseuatu yang tak bisa disembunyikan dari film ini. Sang perempuan sutradara ini melakukan gazing terhadap dua tokoh laki-lakinya. Gazing di sini diambil dari pengertian Laura Mulvey tentang kerja kamera yang cenderung untuk mewakili cara pandang pembuat film yang berada di balik kamera itu. Mulvey dengan pendekatan psikoanalisis mencoba untuk mengungkapkan motif-motif tersembunyi film yang dapat dibaca melalui presentasi media film itu ke hadapan penonton. Mulvey percaya bahwa motif-motif seksual tersembunyi dari laki-laki bisa dibaca pada cara mereka menghadirkan wajah dan tubuh perempuan di kamera. Kamera yang dikendalikan oleh laki-laki biasanya menangkap dan mengungkapkan kembali sensualitas milik kaum perempuan dengan sadar, sebagai bagian cari schocophilia, konsep yang diajukan oleh Sigmund Freud tentang kenikmatan untuk melihat dan dilihat. Cara untuk menangkap dan mengungkapkan tubuh perempuan secara sensual itu sama dengan menatap dengan tatapan penuh hasrat kepada tubuh tersebut. Hal inilah yang dikenal dengan gazing pada film.
Dengan melihat kerja kamera yang dilakukan oleh Upi pada Realita terlihat adanya sikap gazing yang dilakukan oleh Upi terhadap Vino Bastian dan Herjunot Ali. Banyak sekali kesempatan kedua laki-laki muda ini membuka baju dan memperlihatkan otot perut mereka yang six packs. Bahkan nyaris setiap adegan membuka baju, tubuh mereka sedikit berkeringat, menambah kental seksualitas kedua anak laki-laki itu.
Keluarga Inkonvensional
Upi memang menjadikan filmnya ini sebagai film komedi. Komedi situasi diciptakan Upi dari hubungan-hubungan para tokohnya, terutama keluarga mereka dan bagaimana seharusnya anggota-anggota keluarga diharapkan bersikap satu sama lain. Konteks ekspektasi kultural inilah yang tak terpenuhi dan patah-patah logikanya sehingga menimbulkan komedi situasi yang menyenangkan sepanjang film. Upi tampak yakin dengan pilihan ini.
Ketiga tokoh utama film ini berasal dari keluarga yang tidak konvensional. Nugi dibesarkan oleh ibu yang orangtua tunggal. Lebih dari sekadar itu, ibu Nugi (Sandy Harun) selalu punya calon ayah yang diperkenalkan kepada anaknya yang sudah menjelang akhir usia belasan itu. Nugi selalu berada pada situasi makan malam dengan sang “calon ayah” dan terpaksa mengikuti konvensi-konvensi yang dikembangkan dalam hubungan antara ibu dan calon ayahnya itu. Di sinilah kelucuan dibangun. Kali ini ibu Nugi berhubungan dengan seorang pengusaha aromaterapi (Tino Saroenggalo) yang tampaknya tergila-gila pada sesuatu yang berbau India, termasuk gaya berpakaian dan aksesorisnya.
Di sini terlihat sindirian Upi terhadap eksotisme kelas menengah usia paruh baya di Indonesia terhadap gerakan new age dan bagaimana attitude rock ‘n’ roll jengah memandang kemapanan itu. Bagian ini menjadi komentar sosial yang dihadirkan secara parodik. Humor yang dikembangkan Upi sangat menarik sekalipun bagian ini sedikit mengingatkan pada film Un indien dans la ville (Little Indian Big City, Herve Palud, 1994), sekalipun keduanya menyajikan persoalan dengan cara yang berbeda.
Keluarga macam ini melahirkan kebosanan luar biasa sehingga para tokoh film ini lebih suka duduk-duduk di atas kap mobil antik milik Nugi. Sampai kenyataan mengejutkan mereka. Kenyataan pertama adalah ayah Nugi yang sudah menjadi perempuan. Pada bagian ini plot film menjadi jelas arahnya, sekalipun terasa sekali merujuk kepada Todo Sobre Mi Madre (All About My Mother, Pedro Almodovar, selanjutnya disebut Todo saja). Nugi menemukan kenyataan bahwa ayahnya sudah menjadi seorang perempuan. Tak jelas apakah ayah Nugi sudah berganti kelamin (transexual) ataukah gemar memakai pakaian perempuan untuk mendorong hasrat seks saja (transvestite). Hal ini lumayan penting karena jika ayah Nugi adalah transexual, inilah pertamakalinya tokoh transexual digambarkan dengan gambaran positif dalam film Indonesia.
Namun yang jelas, cerita semacam ini juga menjadi plot utama pada film Todo. Bedanya, pada Todo, si laki-laki yang beralih kelamin itu ditemukan kembali oleh istirnya sesudah anak mereka satu-satunya meninggal dunia, sedangkan pada Realita, sang anaklah yang mencari tahu tentang ayahnya yang sesungguhnya.
Keduanya adalah komedi dengan model komedi dan perkembangan plot yang sangat berbeda. Todo menyodorkan kompleksitas plot macam telenovela dengan pola-pola hubungan personal yang rumit dan wagu, sedangkan Realita menyodorkan komedi situasi dari stereotipisme yang kemudian berkembang menjadi slapstick. Todo tidak menjadikan gegar budaya akibat peralihan jenis kelamin itu sebagai olok-olok. Alih-alih, film ini menghadirkan komedi yang dalam lewat hubungan-hubungan personal yang ganjil ketika sang suami yang transvestite masih berhubungan badan dengan perempuan muda dan bahkan menyebabkan perempuan muda itu hamil. Sang istri yang kaget menemukan bahwa suaminya sudah berpakaian seperti perempuan harus kaget lagi dengan kenyataan bahwa suaminya yang sudah memakai baju perempuan itu masih menghamili perempuan lain.
Pada Realita, ayah Nugi, Mariadi (Barry Prima) berganti nama menjadi Mariana. Hal ini tentu mendatangkan gegar psikologis pada Nugi. Gegar psikologis inilah yang dieksploitasi sebagai komedi oleh Upi, sekalipun kita harus mau memaafkan dua hal besar. Pertama, karakter Mariana terlalu dipenuhi stereotip. Seorang laki-laki yang beralih kelamin digambarkan penuh sensitiftas, gemar memasak, peduli pada mode pakaian, belajar menari salsa hingga menangis ketika menonton film di bioskop. Menyaksikan rangkaian stereotip ini agak terasa seperti menyaksikan pelawak Tessy beraksi di panggung, hanya saja bedanya stereotip ini diperhitungkan dengan sangat matang.
Kematangan itu adalah pada pemilihan Barry Prima sebagai pemeran Mariana. Pemilihan ini memunculkan sub-teks ke hadapan penonton yang dengan mudah bisa mengenali Barry Prima di balik pakaian perempuan itu. Jika biasanya Barry Prima menjadi Jaka Sembung atau peran jago berkelahi macam itu, maka ia berpakaian perempuan saja sudah menngandung komedi. Sub-teks ini terus membayang ke hadapan penonton, sampai akhirnya film ini dengan tidak tanggung-tanggung, memanfaatkan sub-teks itu sebagai materi komedi pada teks, yaitu dengan adegan yang seakan berkata kepada penonton: ‘lihat, Barry Prima bermain film sebagai perempuan’. Di sinilah pilihan ini terasa jadi berlebihan.
Adegan perkelahian Mariana satu lawan satu dengan pencopetlah yang membuat sub-teks ini dibicarakan terbuka. Teknik ini seperti sekelompok pelawak yang di atas panggung sedang memainkan peran bermusuhan, tiba-tiba berkata: ‘kita kan satu grup’, untuk memancing tawa penonton. Di sini tampak Upi sadar akan sub-teks filmnya dan ia tahu bahwa sub-teks itu terbaca penonton dengan jelas. Maka pengungkapan sub-teks itu dengan cara semacam ini menjadi sangat efektif mengundang tawa, sekalipun digunakan dengan metode slapstick. Metode semacam ini banyak digunakan oleh lenong Betawi ketika pemain berinteraksi dengan penonton dengan kata-kata: “tul gak, penonton!” yang sebenarnya merupakan sebuah bentuk alternatif dari drama Victorian.
Hal kedua yang perlu dimaafkan adalah penerimaan Nugi terhadap ayahnya. Kekecewaan dan kemarahan yang demikian besar bisa tuntas hanya lewat kata-kata. Pada awal pertemuan mereka, Nugi tak bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah berganti kelamin. Namun akhirnya Nugi bisa menerimanya dengan mudah setelah ibunya bicara padanya. Film ini jadi terlalu mudah menyelesaikan persoalan, dan pilihan penyelesaiannya adalah pilihan pada verbalisme, pada kata-kata yang banal dalam sebuah percakapan yang biasa. Jika film ini ingin menghadrikan sifat larger than life dari film dengan bentuk kata-kata verbal seperti ini, film ini terasa jadi menuntut terlalu banyak dengan seluruh bangunan penceritaan yang mengandung konotasi perbincangan seksualitas dan attitude.
Satu hal kecil lagi yang juga mungkin harus dimaafkan adalah keseharian Mariana. Ia hidup di sebuah rumah mewah dan berpakaian bagus serta berlatih Salsa tetapi tak jelas apa pekerjaannya. Mungkin tak penting. Tapi penjelasan pekerjaan seorang seperti Mariana dibandingkan dengan rumah mewah yang ditinggalinya akan menambah kompleksitas cerita yang mungkin akan menggagalkan niatan menjadikan semuanya menjadi komedi yang menghibur yang ringan seperti ini. Film komedi yang penuh stereotip semacam ini memang lebih mudah dengan menggunakan stock character yang selalu bersifat satu dimensi dan tidak nyata.
Kenyataan kedua yang ditemui dalam film ini juga berangkat dari bentuk keluarga inkonvensional sekalipun problem semacam ini sudah tergolong persoalan lama. Bentuk keluarga Ipang di awal film tampak seperti sebuah keluarga tipikal di Indonesia. Ayah-ibu dan dua orang anak laki-laki. Nyaris seperti gambaran keluarga yang dikampanyekan Orde Baru tahun 1980-an. Namun jarak usia antara Ipang dan adiknya Dido tampak terlalu jauh. Ada alasan untuk itu. Ipang adalah anak yang diadopsi. Hal ini sebenarnya cenderung untuk tak terungkap sampai buku rapor Ipang yang buruk. Kedua orangtuanya bertengkar sehingga tanpa sadar mereka membicarakan soal status Ipang sebagai anak adopsi.
Plot selanjutnya berjalan tipikal. Ipang lari dari rumah karena merasa terbuang. Ia merasa dirinya seorang pecundang yang sebenarnya tak punya arti dalam hidup. Ia merasa kedua orangtuanya sebenarnya menolaknya karena ia tak mampu menunjukkan apapun kepada mereka. Konflik ini demikian tipikal, sekalipun Upi berhasil menang dalam perang melawan klise itu dengan beberapa konstruksi adegannya. Ketika Ipang bertemu ayahnya yang mencoba membujuknya untuk pulang, percakapan yang dibuat Upi terasa konsisten dengan bangunan karakter Ipang dan attitude yang dihadirkan sepanjang film. Ipang berkeras untuk tak mengikuti keinginan ayahnya yang membujuknya untuk kembali ke rumah. Wajahnya terus mengeras dan tak berkompromi sedikitpun. Adegan ini diakhiri dengan sebuah amplop dari Dido yang diberikan sang ayah kepada Ipang. Ketika Ipang membuka amplop itu, Upi berhasil menghadirkan keharuan yang tepat.
Ringan
Realita, Cinta dan Rock ‘n’ Roll mempertegas posisi Upi Avianto sebagai sutradara dengan topik ringan. Pada 30 Hari Mencari Cinta dan Lovely Luna ia menyodorkan sebuah persoalan sangat cair yang menimpa anak-anak muda dengan karakter yang juga cair. Di Realita, karakter tokoh-tokoh Upi mengental dengan bahasa kasar yang mereka gunakan, tapi sayangnya hanya berhenti di situ. Terihat sepintas ia seperti ingin membicarakan soal-soal penting. Attitude rock ‘n’ roll dan seksualitas anak muda tahun 2000-an sempat terjanjikan akan tampil dalam film ini. Namun Upi hanya menjadikan semua itu menjadi backdrop yang tak penting. Entah kenapa jika memang tak penting, Upi merasa perlu menggambarkannya sampai demikian intensif. Mungkin itu semua lahir dari referensi pada ungkapan-ungkapan visual dan bukan pada substansi. Terlihat bahwa ungkapan visual Upi sangat jauh membaik ketimbang pada film-film sebelumnya.
Namun Upi memang selalu tulus dan riang hati bercerita mengenai hal-hal yang dianggapnya menarik, sekalipun mungkin tak penting. Ketulusan dan keriangan hati inilah yang akan membuat film ini akan mendapat perhatian penonton. Tampaknya Upi termasuk yang setuju bahwa film sudah cukup dengan bercerita dan tak harus membawa pesan apa-apa. Dan hal seperti itu mungkin cukup bagi penonton film di negeri ini. Namun seorang pencerita yang baik tetap harus menghargai ceritanya sendiri. Logika yang tak runut jika hanya sesekali hadir tak menjadi soal dan termaafkan. Lain soalnya ketika tak runutnya logika jadi menuntut terlalu banyak. Resolusi film ketika kedua anak itu akhirnya menari Salsa untuk membayar rasa bersalah Nugi terhadap ayahnya terasa sangat dipaksakan. Pemecahan soal terlalu mudah ini akhirnya menjadi sesuatu yang tipikal film Indonesia belakangan. Masih ada urusan logika internal cerita yang belum selesai.
Teater Victoran meletakkan panggung di depan penonton sehingga penonton berada di “dinding keempat” yang bersifat imajiner. Dengan demikian penonton selalu berjarak dengan pertunjukan. Hal ini berbeda dengan teater tradisional seperti lenong dimana pemain tak berjarak dengan penonton atau teater Pra-Victorian yang berbentuk lingkaran sehingga penonton mengelilingi pemain. Model narasi film modern, terutama teknik editing, pada dasarnya adalah peniruan teater Victorian ini dengan usaha membangun kesatuan ruang dan waktu yang dilihat oleh penonton yang berada di “dinding keempat” itu. Metode ini pernah digunakan oleh film Vina Bilang Cinta (Indra Yudhistira Ramadhan) ketika tokoh Silia (Rachel Maryam) berkata kepada Tris (Delon) “emangnya lo Delon!”. Hanya saja, Vina Bilang Cinta berlebihan dalam mengeksploitasi hal ini sehingga terasa menjadi sangat sadar diri, berlebihan dan melelahkan.